Sabtu, 06 Juli 2013

Cerpen baru


Cinta Beda Dimensi.
            Ratna menaruh embernya di bawah sebuah pancuran. Diusapnya air mata yang mengalir dengan deras pada pipinya. Tangannya yang putih penuh dengan memar akibat pukulan yang diberikan oleh ibu tirinya. Belum genap setengah tahun ibunya meninggal, ayahnya sudah menikah lagi dengan wanita lain. Betapa sakit hati Ratna saat mengetahui ayahnya menikah lagi apalagi ibu tirinya sangat tidak menyukainya, dia selalu berusaha untuk menyiksa Ratna. Mencari-cari kesalahan agar dapat memukul Ratna. Air mata yang sudah dihapusnya kini menetes lagi. “Ya Tuhan, tolong hamba, hamba tidak sanggup hidup seperti ini terus Tuhan.” Ratap Ratna, sambil berjongkok di samping ember. Kedua tangannya digunakan untuk menutupi wajahnya yang penuh air mata. Tubuhnya bergoyang maju mundur akibat akibat isak tangis.
            Dari kejauhan seseorang mengamati apa yang dilakukan oleh Ratna, mendengar doa Ratna dan memutuskan untuk membantunya.
            Saat pulang dari pancuran untuk mencari air Ratna dipukuli lagi oleh ibu tirinya, padahal Ratna tidak melakukan kesalahan sedikit pun. Ayah Ratna yang melihatnya diperlakukan tidak adil oleh istri barunya hanya diam dan menonton. Tidak berusaha membela Ratna. Dengan tangis yang ditahan Ratna masuk ke dalam kamarnya. Dia menjatuhkan dirinya ke atas kasur tipis tempatnya selama ini melepas lelah. Air matanya masih terus berlinang. Ratna menahan tangisnya agar tidak pecah. Dia tidak mau ibu tirinya mendengar dia menangis dan datang untuk menghukumnya lagi. Dia terus menangis dalam diam hingga tertidur. Tubuhnya yang sudah lelah karena bekerja terus dari pagi hingga malam kini sudah ambruk, ditambah dengan kelelahan psikis yang dialaminya karena terus dimarahi membuatnya tidak terbangun ketika seseorang menyelinap masuk dan memandanginya yang tengah tertidur dengan lelap.
            Beberapa hari kemudian setiap malam Ratna terus bermimpi. Rasanya Ratna sedang duduk termangu meratapi nasibnya di pinggir sungai, tiba-tiba di sampingnya sudah duduk seorang laki-laki yang tengah tersenyum kepadanya. Laki-laki itu merangkul bahunya, dan menepuknya dengan lembut. Memberi semangat. Di dalam mimpinya Ratna tidak bisa melihat wajah lelaki itu dengan jelas, wajahnya terlihat kabur. Selama seminggu penuh Ratna selalu memimpikan hal yang sama, membuatnya penasaran. Apakah mimpinya memiliki sebuah arti? Siapakah lelaki itu? Itulah pertanyaan yang terus memenuhi kepalanya membuat Ratna terus dimarahi oleh karena kepergok melamun saat disuruh memasak yang akhirnya membuat Ratna dipukul lagi oleh ibu tirinya. Akhirnya malam itu Ratna menangis sampai tertidur. Dalam tidurnya lagi-lagi Ratna memimpikan lelaki itu. Seperti biasanya lelaki itu duduk disamping Ratna sambil menepuk lembut punggungnya. Namun, kali ini Ratna tidak diam saja. Dia membuka mulutnya dan bertanya “siapa kamu? Kenapa kamu selalu duduk dan menepuk punggungku? Apakah kita saling mengenal? Dari mana kamu berasal?”
            Mendengar pertanyaan Ratna yang banyak dalam satu kalimat sekaligus membuat lelaki itu terkekeh-kekeh geli. “Ratna, pertanyaanmu banyak sekali membuatku bingung mana yang harus aku jawab terlebih dahulu.” Jawab lelaki itu sambil mengelus rambut panjang Ratna.
            Ratna yang merasa ditegur hanya bisa menunduk malu menyembunyikan wajahnya yang sudah mulai memerah. Karena Ratna tidak menjawab pertanyaannya, lelaki itu kemudian angkat bicara. “Namaku Makutha Lawa.” Menjawab pertanyaan Ratna.
            Mendengar jawaban lelaki itu Ratna mengangkat wajahnya lagi, mengingat sopan santun Ratna juga memperkenalkan dirinya “aku Ratna.” Makutha Lawa hanya tersenyum ketika Ratna memperkenalkan dirinya. Karena belum puas dengan jawaban Makutha Lawa yang setengah, Ratna mengulang kembali pertanyaannya yang kali ini dijawab semua oleh Makutha Lawa. “Karena aku ingin menjadi temanmu Ratna, aku ingin kita berteman. Dan tidak, kita tidak saling mengenal meskipun rumah kita berdekatan, aku tinggal tidak jauh dari rumahmu. Suatu hari aku akan mengajak kamu untuk berkunjung kerumahku.”
            Setiap hari setelah mimpi itu Ratna terus bermimpi tentang Makutha Lawa. Di dalam mimpinya mereka menjadi teman. Makhuta sangat baik, dia terus menyemangati Ratna saat dia menangis dan menyesali nasibnya yang tidak pernah menerima keadilan. Bahkan terkadang Ratna dibuat tertawa dengan cerita-cerita lucu yang diceritakan Makutha. Dalam mimpinya Ratna terkadang diajak berjalan-jalan oleh Makutha, Ratna tidak tahu dimana tempat itu karena dia belum pernah melihatnya. Ratna juga tidak ambil pusing karena dia hanya bisa bertemu dengan Makutha hanya dalam mimpi, Ratna menganggap Makutha teman imajinasi yang diciptakan oleh alam bawah sadar otaknya yang kesepian dan tertekan.
            Suatu malam Ratna bermimpi kalau Makutha mengajaknya ke sebuah desa, katanya di desa itu sedang ada sebuah perayaan. Di mimpinya Ratna bahkan sudah mengenakan baju terusan merah yang bagus, baju yang tidak pernah dimilikinya, karena sebagian besar bajunya adalah baju yang dibeli di pasar bekas. Dalam hati Ratna berpikir betapa indahnya alam mimpi yang ia jalani tidak ada ibu tirinya yang jahat, dan bisa memiliki baju yang bagus-bagus.
            Makutha dan Ratna berjalan bersisian menembus kerumunan orang yang sudah terlebih dahulu memenuhi tempat perayaan yang terletak ditengah alun-alun desa. Disana ada banyak toko sementara yang menjual berbagai jenis barang. Agar tidak tersasar Makutha menggenggam tangan Ratna dengan lembut tapi tegas. Membuat hati Ratna berdesir senang. Selama ini dia belum pernah merasakan masa pacaran karena dia sibuk mengurus ibunya yang sudah sakit-sakitan sejak Ratna masih kecil. Ratna melirik tangannya yang digenggam oleh Makutha, dan bertekat untuk menikmati setiap menit yang dia habiskan. Meskipun semua ini hanya dalam mimpinya.
            Mereka berkeliling-keliling, berhenti disetiap toko yang menjual barang yang mereka inginkan. Dengan baik hati Makutha membelikan berbagai macam barang yang diinginkannya karena ternyata meski dialam mimpi Ratna tetap tidak memiliki uang. “Kamu senang Rat?” tanya Makutha ketika mereka berjalan menuju toko yang menjual berbagai macam jajanan.
            Ratna menoleh menghadap Mukuthan. Senyum cerah tersungging diwajahnya membuat kedua lesung pipit yang menghiasi pipinya semakin kentara. “Aku seneng banget Tha. Aku belum pernah ke tempat-tempat seperti ini!” jawab Ratna antusias sambil berjalan dengan meloncat-loncat girang. Melihat tingkah laku Ratna, Makutha hanya tersenyum geli sambil menggelengkan kepalanya. Kemudian Makutha berjalan menjejari langkah Ratna yang bersemangat sambil kembali meraih tangan Ratna untuk digenggamnya. Lalu mereka berhenti di sebuah toko yang menjual jajanan sambil beristirahat dan makan.
            Ketika tengah asyik mencoba berbagai jenis jajanan Ratna dan Makutha dikejutkan oleh sebuah teriakan yang nyaring dan melengking “KAAAAKKAAAAKKKK.” Tidak jauh dari tempat mereka duduk muncul seorang gadis cantik berambut panjang, yang dilihat dari pakaiannya merupakan pakaian yang mahal. Gadis itu kemudian mendekati mereka. Kedua tangannya diletakkan di kedua pinggangnya, tatapanya menghukum. “Kakak, aku ingin berbicara denganmu.” Kata gadis itu kepada Makutha “sendiri.” Tambahnya kemudian. Makutha permisi kepada Ranta lantas dia mengikuti adiknya. Setelah mereka berdua berada di tempat sepi Anila, adik Makutha menatapnya dengan pandangan meminta penjelasan. Makutha tahu ini akan terjadi jadi dia pun mulai menjelaskan semuanya. “Aku kasihan padanya, dia selalu disiksa di dunianya, tidak ada yang perduli dengannya. Aku yang melihat dia seperti itu merasa iba dan akhirnya aku memutuskan untuk mengajaknya berjalan-jalan di dunia kita, dan menjadi temannya.” Jelas Makutha. Makutha melihat mata adiknya semakin menyipit tanda tidak percaya.
            “Apa kakak menyukainya? Apa kakak memberitahu siapa kakak sebenarnya?” Anila bertanya lagi.
            “Kau tenang saja dia tidak tahu apa-apa. Dia menganggap semua ini hanya mimpi yang dipicu oleh imajinasi bawah sadarnya.” Makutha menjelaskan tetapi Anila tetap bergeming. Makutha menghela nafas tahu pasti dia tidak akan lolos dari pertanyaan adiknya yang ini, jadi dia hanya mengangguk “tapi aku tahu dimana tempatku, jadi aku hanya akan berteman dengannya.” Jelas Makutha kemudian berbalik, kembali menuju stage tempat dia meninggalkan Ratna.
            “Ratna kenalkan ini Anila adikku, Anila ini temanku Ratna.” Kata Makutha memperkenalkan Ratna dengan Anila. Ratna menggenggam tangan Anila sambil mengangguk sopan yang dibalas genggaman erat dari Anila. Mereka bertiga kemudian berjalan bersama-sama dan Makutha tidak pernah menggenggam tangan Ratna lagi, dia berjalan dibelakan Ratna dan Anila, bak seorang bodyguard.
            Kehidupan Ratna masih seperti dulu setiap hari dia akan disiksa oleh ibu tirinya baru malamnya dia bisa menikmani kehidupan dengan ditemani oleh Makutha. Semuanya berjalan terus seperti itu selama hampir satu tahun hingga suatu hari Ratna mendengar berita kalau ibu tirinya akan menjodohkannya dengan seorang duda tua dengan tiga orang anak yang berasal dari desa tetangga. Berita itu disampaikan sendiri oleh ibu tirinya sambil mengatakan bahwa Ratna hanya bisa menyusahkan, setiap pekerjaan yang ia lakukan selalu salah dan tidak menyumbangkan apa-apa untuk membantu pengeluaran keluarga karena tidak bekerja, jadi sebaiknya Ratna menikah saja jadi tidak membebani ayahnya lagi, apalagi calon suaminya adalah duda yang kaya jadi pasti nanti bisa membantu keuangan keluarga. Ratna yang mendengar semua itu merasa sakit hati. Sakit hatinya bertambah berkali-kali lipat dari yang dirasakan biasanya. Bagaimana bisa ibu tirinya bilang kalau dia tidak menyumbangkan apa-apa? Dari pagi dia bekerja sampai malam mengurusi rumah! Ibunya hanya perlu duduk manis dan menerima beres semua pekerjaan. Ratna tidak setuju dengan usulan ibu tirinya itu. Dia menolak pertunangan itu, tapi ibu tirinya tidak menerima baik penolakan itu dia lantas memukuli Ratna lebih keras dari biasanya membuat sebagian kulit Ratna terkelupas.
            Seperti malam-malam sebelumnya Ratna tertidur sambil menangis. Tidak seperti biasanya malam itu Ratna tidak bermimpi apa-apa. Tidurnya pun gelisah, serasa ada yang menatapnya ketika tengah tertidur tetapi ketika dia setengah terjaga Ratna ingat tidak ada apa-apa di kamarnya kecuali seekor kelelawar, tapi Ratna tidak memperdulikan itu karena, rumahnya memang dekat dengan kebun dan sungai.
            Berhari-hari selanjutnya Ratna tidak pernah bermimpi lagi. Ibu tirinya tanpa ijin dari Ratna menyetujui perjodohan itu dan tengah sibuk untuk mempersiapkan acara perkawinan yang akan segera dilaksanakan. Ratna yang mengetahui itu berusaha untuk menolak sekali lagi tapi lagi-lagi dia dipukuli. Akhirnya Ratna pasrah dengan nasibnya yang tidak pernah adil. Setiap malam dia menangis sambil memohon memanggil-manggil nama Makutha memintanya agar datang menemuinya dalam mimpi. Dengan permohanan itu sebagai nina bobo Ratna akhirnya bermimpi juga. Di dalam mimpinya Makutha berdiri membelakangi Ratna menunduk memandang ke kedalaman sungai yang ada di bawahnya.  Dengan hati-hati Ratna mendekati Makutha yang berdiri di sebuah batu besar di pingir sungai. Ratna menyentuh pundak Makutha menariknya sedikit meminta Makutha berbalik menghadapnya namun, Makutha bergeming. “Makutha?” Ratna berbisik. Tanpa berbalik menghadap Ratna, Makutha berujar “Ratna, aku akan menemuimu di kamar besok. Setelah malam tiba.” Kemudian Ratna tersentak bangun dari tidurnya, dari mimpinya.
            Ratna kembali memejamkan matanya menganggap yang ia alami hanya mimpi biasa.
            Betapa terkejutnya Ratna saat membuka pintu kamarnya. Disana di dekat jendela yang terbuka menampakkan langit yang sudah gelap berdiri seorang lelaki. Laki-laki yang selalu hadir dalam mimpinya selama hampir setahun belakangan ini. Laki-laki yang membuatnya tersenyum dan merasa hidup setelah sekian lama. Seperti dalam mimpinya semalam Makutha terus membelakangi Ratna menolak untuk melihatnya.
            “Ratna, ada hal yang ingin aku katakana.” Jeda sejenak sebelum Ratna mengangguk dan menjawab, masih tidak bisa membayangkan orang yang selama ini hanya ada dalam mimpinya kini ada di depannya, dalam kehidupan nyata! “Dulu ketika aku melihatmu menangis di pancuran aku hanya berniat untuk menjadi temanmu, membuat kamu tertawa dan berhenti meratapi nasib. Tapi kini aku tak sanggup lagi menjadi temanmu Rat, seiring dengan berlalunya waktu yang kita habiskan aku mulai menyayangimu, lalu tanpa aku sadari rasa sayang itu sudah berubah menjadi rasa cinta.” Makutha berbalik menghadap Ratna menatap mata Ratna dalam-dalam “Ratna aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, tapi alam kita berbeda dan aku terlalu mencintaimu untuk memintamu memilih aku atau hidupmu sebagai manusia. Dan aku juga tahu meskipun ayahmu tidak menentang ibu tirimu ketika dia memukulimu tapi, dalam hatinya dia sangat menyayangimu dia hanya terperdaya akan akal busuk ibu tirimu. Dan aku juga tahu bahwa, jauh didalam lubuk hatimu kau sangat menyayangi ayahmu. Dan aku tidak akan sanggup memintamu berpisah dengan ayahmu. Tetapi aku juga tidak sanggup untuk menjadi temanmu jika aku tidak bisa memilikimu.” Ratna yang mendengar pengakuan Makutha masih belum bisa mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Makutha.
            “Aku tidak mengerti.” Hanya itu yang bisa dikatakan oleh Ratna, yang sukses membuat Makutha tersenyum. “Perkenalkan Ratna, aku adalah Maharaja Makutha Lawa penguasa  dari Kaiswaran Madya Ratri” Makutha memperkenalkan dirinya, melihat Ratna yang masih belum bisa bersuara dia lantas melanjutkan “ia, aku adalah siluman. Aku adalah raja dari siluman Lawa-Kelelawar yang menguasai sungai dibelakang rumahmu itu.” Jelas Makutha sambil mengedikkan kepalanya ke arah sungai yang tertutup oleh pepohonan. Makutha membiarkan Ratna mencerna kata-katanya, kemudian dia melanjutkan. “Karena tidak ingin membuatmu terkejut maka dengan kekuatan yang aku miliki, aku membuat seolah-olah kita bertemu dalam mimpi. Padahal aku mengeluarkan badan halusmu dan mengajakmu berjalan-jalan ke duniaku.”
            “Aku tidak percaya” hanya itu yang bisa Ratna katakan.
            Makutha berjalan melewati Ratna menuju lemari, kemudian dengan sekali sentakan dia membuka kedua pintu lemari, dan dengan perlahan merogoh ke dalam lemari mengambil beberapa baju dari tumpukan terbawah. Kemudian memperlihatkannya kepada Ratna. “Kamu ingat ini? Ini adalah baju yang kita beli beberapa bulan yang lalu. Semua yang kau beli semuanya tersimpan di dalam lemarimu. Meskipun dimensi dunia tempat kita tinggal berbeda tetapi cara kita hidup cukup banyak kesamaan. Di duniaku, juga ada pasar, dan toko, kami juga bekerja dan menggunakan uang untuk membayar. Hanya saja di dunia Siluman yang aku tempati pemimpinnya masih seorang raja yaitu aku.”
            Ratna menatap Makhuta “Kalau begitu tunjukkan kalau kau adalah seorang siluman.” Tantang Ratna. Makutha menghela napas lelah. Kemudian dengan sekejap mata Makutha sudah berubah menjadi seekor kelelawar yang lebih besar dari kelelawar kebanyakan. Kelelawar jadi-jadian itu berputar-putar beberapa kali diatas kepala Ratna kemudian dalam sekejap mata berubah kembali menjadi Makhuta. Melihat transformasi itu mata Ratna terbelalak ngeri. Sedikit demi sedikit dia bergerak mundur menjauh dari Makutha. “Pergi” bisik Ratna ngeri. Bukannya mematuhi permintaan Ratna, Makutha malah mendekati Ratna, berusaha menggapainya. “PERGIII!!!!” teriak Ratna sambil menutupi matanya. Dengan hati terluka karena penolakan Ratna, Makutha pergi dengan hati hancur.
            Selama satu hari Ratna tidak mau keluar dari kamarnya. Dia syok, dan semangat hidupnya menurun. Ratna bahkan tidak merasakan sakit lagi ketika dia dipukuli karena menolak menemani calon suaminya, yang merupakan duda beranak tiga. Dia hanya diam menerima pukulan-pukulan yang dihantamkan ibu tirinya. Setiap hari Ratna hanya bisa melamun memikirkan Makutha.
***
            Di alam siluman Makutha duduk termangu memandangi kayu yang biasa diduduki olehnya dan Ratna. Saking tenggelamnya Makutha dalam lamunannya, Makutha tidak menyadari adiknya, Alina mendekat menghampirinya. “Kak” Alina menepuk punggung kakaknya dengan keras hingga membuat Makutha hampir jatuh tertelungkup.
            Dengan tatapan sebal Makutha menatap adiknya. Alina yang ditatap seperti itu hanya tersenyum dan akhirnya tertawa-tawa geli. “Oh, kakakku sayang. Penguasa Kaiswaran Madya Ratri, kenapa kau melamun seperti itu? Seperti orang yang sedang patah hati.” Ledek adiknya yang sukses menambah kadar tatapan jengkel yang diberikan Makutha. “Oh, sudahlah kak.” Kata Alina yang kini sudah mulai serius. “Kalau kau mencintainya, kenapa kau tidak menikahinya saja? Bukankah leluhur kita juga ada yang menikahi manusia?” Tanya Alina bersimpati dengan masalah kakaknya. Tetapi orang yang diajaknya bicara hanya melengos dan kembali mengarahkan pandangannya pada batang kayu di depannya. “Kakak.” Mendengar suara Alina yang begitu mendesak membuat Makutha kembali menghadap adiknya. Kali ini dengan pandangan bertanya. “Belakangan ini aku pergi ke dunia Ratna, aku mengamatinya. Dia terlihat seperti mayat hidup. Bahkan ketika dia dipukuli dia hanya diam dan menerimanya. Dan yang lebih gawat lagi, dia akan segera menikah. Dia dijodohkan dengan seorang tua yang memiliki tiga anak!” Alia mengadukan semua pengamatan yang dia lihat. Hati Makutha terasa sesak membayangkan Ratna yang begitu menderita. Niatnya dulu untuk membuat Ratna bahagia malah membuatnya semakin menderita. Kenapa takdir mengharuskannya terlahir sebagai bangsa siluman? Hidup selama ratusan tahun tanpa cinta, dan ketika dia menemukan cinta dia malah harus melepaskannya karena berbeda dimensi, berbeda dunia.
            Melihat kakaknya yang terlihat merana Alina mengusap punggung kakaknya memberi semangat dan dukungan. “Jika kau memang benar mencintainya, dan aku yakin dia juga mencintaimu. Maka carilah dia. Lamar dia, dan biarkan takdir yang memutuskan apakah kalian memang tidak berjodoh atau kalian memang ditakdirkan untuk bersama.” Setelah mengatakan itu Alina pergi membiarkan kakaknya merenungkan semua kata-katanya.
            Beberapa menit berlalu ketika Makutha mulai berdiri dan berlari menembus dimensi mencari cintanya.
***
            Ratna menatap cermin kecil yang ada di meja kamarnya. Hari ini adalah hari pernikahannya tapi dia merasa hari ini adalah hari pemakamannya. Selama berminggu-minggu dia merenungkan semua hal menyangkut hidupnya, semua hal yang telah terjadi dalam hidupnya. Dan dia memutuskan bahwa dia sangat mencintai Makutha. Tak peduli siapa dan apa sebenarnya Makutha itu. Ratna hanya tahu bahwa dia mencintainya dan tidak dapat hidup tanpanya. Ratna merasakan detak jantungnya semakin memburu, hormone adrenalin mulai bergolak mengambil alih tubuhnya. Tanpa pikir panjang Ratna berlari keluar rumah menuju sungai. Dalam hati Ratna berteriak memanggil Makutha. Bagai pucuk dicinta ulam tiba, saat Ratna sudah nekat untuk melompat ke dalam sungai, berharap dengan begitu dia bisa menyeberang dan sampai di dunia Makutha. Tapi di sanalah dia, cintanya berdiri mengulurkan tangan. Menunggunya. Tanpa pikir panjang Ratna meraih uluran tangannya.
            Beberapa hari kemudian jasad Ratna ditemukan mengambang di sungai. Ayahnya begitu bersedih dengan kepergian anaknya, menyesal karena tidak menyayanginya. Tapi itu hanya badan kasarnya. Badan yang selama ini selalu tersiksa. Kini jiwa Ratna akan hidup abadi bersatu dengan belahan jiwanya yang akan selalu memberikan cinta dan kebahagiaan. Tak perduli siapa, dan apa bentuk mereka. Jiwa mereka akan selalu bersatu meski dunia mereka berbeda. Karena itulah takdir meraka diciptakan.

The End.

           

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar