GakGaul
mimpi adalah awal dari sebuah cita-cita, degan adanya cita-cita seorang manusia akan memiliki sebuah tujuan hidup yang membuat mereka menjadi semakin semangat untuk menjalani hari, mengetahui tujuan hidup mereka sehingga mereka akan bisa menghasilkan sesuatu yang berguna bagi orang lain. jadi mulailah dengan bermimpi dan ikuti dengan kerja keras.
Senin, 08 Juli 2013
Sabtu, 06 Juli 2013
Cerpen baru
Cinta Beda Dimensi.
Ratna menaruh embernya di bawah sebuah pancuran.
Diusapnya air mata yang mengalir dengan deras pada pipinya. Tangannya yang
putih penuh dengan memar akibat pukulan yang diberikan oleh ibu tirinya. Belum
genap setengah tahun ibunya meninggal, ayahnya sudah menikah lagi dengan wanita
lain. Betapa sakit hati Ratna saat mengetahui ayahnya menikah lagi apalagi ibu
tirinya sangat tidak menyukainya, dia selalu berusaha untuk menyiksa Ratna.
Mencari-cari kesalahan agar dapat memukul Ratna. Air mata yang sudah dihapusnya
kini menetes lagi. “Ya Tuhan, tolong hamba, hamba tidak sanggup hidup seperti
ini terus Tuhan.” Ratap Ratna, sambil berjongkok di samping ember. Kedua
tangannya digunakan untuk menutupi wajahnya yang penuh air mata. Tubuhnya
bergoyang maju mundur akibat akibat isak tangis.
Dari kejauhan seseorang mengamati apa yang dilakukan oleh
Ratna, mendengar doa Ratna dan memutuskan untuk membantunya.
Saat pulang dari pancuran untuk mencari air Ratna dipukuli
lagi oleh ibu tirinya, padahal Ratna tidak melakukan kesalahan sedikit pun.
Ayah Ratna yang melihatnya diperlakukan tidak adil oleh istri barunya hanya
diam dan menonton. Tidak berusaha membela Ratna. Dengan tangis yang ditahan
Ratna masuk ke dalam kamarnya. Dia menjatuhkan dirinya ke atas kasur tipis
tempatnya selama ini melepas lelah. Air matanya masih terus berlinang. Ratna menahan
tangisnya agar tidak pecah. Dia tidak mau ibu tirinya mendengar dia menangis
dan datang untuk menghukumnya lagi. Dia terus menangis dalam diam hingga
tertidur. Tubuhnya yang sudah lelah karena bekerja terus dari pagi hingga malam
kini sudah ambruk, ditambah dengan kelelahan psikis yang dialaminya karena
terus dimarahi membuatnya tidak terbangun ketika seseorang menyelinap masuk dan
memandanginya yang tengah tertidur dengan lelap.
Beberapa hari kemudian setiap malam Ratna terus bermimpi.
Rasanya Ratna sedang duduk termangu meratapi nasibnya di pinggir sungai,
tiba-tiba di sampingnya sudah duduk seorang laki-laki yang tengah tersenyum
kepadanya. Laki-laki itu merangkul bahunya, dan menepuknya dengan lembut.
Memberi semangat. Di dalam mimpinya Ratna tidak bisa melihat wajah lelaki itu
dengan jelas, wajahnya terlihat kabur. Selama seminggu penuh Ratna selalu
memimpikan hal yang sama, membuatnya penasaran. Apakah mimpinya memiliki sebuah
arti? Siapakah lelaki itu? Itulah pertanyaan yang terus memenuhi kepalanya
membuat Ratna terus dimarahi oleh karena kepergok melamun saat disuruh memasak yang
akhirnya membuat Ratna dipukul lagi oleh ibu tirinya. Akhirnya malam itu Ratna
menangis sampai tertidur. Dalam tidurnya lagi-lagi Ratna memimpikan lelaki itu.
Seperti biasanya lelaki itu duduk disamping Ratna sambil menepuk lembut
punggungnya. Namun, kali ini Ratna tidak diam saja. Dia membuka mulutnya dan
bertanya “siapa kamu? Kenapa kamu selalu duduk dan menepuk punggungku? Apakah
kita saling mengenal? Dari mana kamu berasal?”
Mendengar pertanyaan Ratna yang banyak dalam satu kalimat
sekaligus membuat lelaki itu terkekeh-kekeh geli. “Ratna, pertanyaanmu banyak
sekali membuatku bingung mana yang harus aku jawab terlebih dahulu.” Jawab
lelaki itu sambil mengelus rambut panjang Ratna.
Ratna yang merasa ditegur hanya bisa menunduk malu
menyembunyikan wajahnya yang sudah mulai memerah. Karena Ratna tidak menjawab
pertanyaannya, lelaki itu kemudian angkat bicara. “Namaku Makutha Lawa.”
Menjawab pertanyaan Ratna.
Mendengar jawaban lelaki itu Ratna mengangkat wajahnya
lagi, mengingat sopan santun Ratna juga memperkenalkan dirinya “aku Ratna.”
Makutha Lawa hanya tersenyum ketika Ratna memperkenalkan dirinya. Karena belum
puas dengan jawaban Makutha Lawa yang setengah, Ratna mengulang kembali
pertanyaannya yang kali ini dijawab semua oleh Makutha Lawa. “Karena aku ingin
menjadi temanmu Ratna, aku ingin kita berteman. Dan tidak, kita tidak saling
mengenal meskipun rumah kita berdekatan, aku tinggal tidak jauh dari rumahmu.
Suatu hari aku akan mengajak kamu untuk berkunjung kerumahku.”
Setiap hari setelah mimpi itu Ratna terus bermimpi tentang
Makutha Lawa. Di dalam mimpinya mereka menjadi teman. Makhuta sangat baik, dia
terus menyemangati Ratna saat dia menangis dan menyesali nasibnya yang tidak
pernah menerima keadilan. Bahkan terkadang Ratna dibuat tertawa dengan cerita-cerita
lucu yang diceritakan Makutha. Dalam mimpinya Ratna terkadang diajak berjalan-jalan
oleh Makutha, Ratna tidak tahu dimana tempat itu karena dia belum pernah
melihatnya. Ratna juga tidak ambil pusing karena dia hanya bisa bertemu dengan Makutha
hanya dalam mimpi, Ratna menganggap Makutha teman imajinasi yang diciptakan
oleh alam bawah sadar otaknya yang kesepian dan tertekan.
Suatu malam Ratna bermimpi kalau Makutha mengajaknya ke sebuah
desa, katanya di desa itu sedang ada sebuah perayaan. Di mimpinya Ratna bahkan
sudah mengenakan baju terusan merah yang bagus, baju yang tidak pernah
dimilikinya, karena sebagian besar bajunya adalah baju yang dibeli di pasar
bekas. Dalam hati Ratna berpikir betapa indahnya alam mimpi yang ia jalani
tidak ada ibu tirinya yang jahat, dan bisa memiliki baju yang bagus-bagus.
Makutha dan Ratna berjalan bersisian menembus kerumunan
orang yang sudah terlebih dahulu memenuhi tempat perayaan yang terletak
ditengah alun-alun desa. Disana ada banyak toko sementara yang menjual berbagai
jenis barang. Agar tidak tersasar Makutha menggenggam tangan Ratna dengan
lembut tapi tegas. Membuat hati Ratna berdesir senang. Selama ini dia belum
pernah merasakan masa pacaran karena dia sibuk mengurus ibunya yang sudah
sakit-sakitan sejak Ratna masih kecil. Ratna melirik tangannya yang digenggam
oleh Makutha, dan bertekat untuk menikmati setiap menit yang dia habiskan.
Meskipun semua ini hanya dalam mimpinya.
Mereka berkeliling-keliling, berhenti disetiap toko yang
menjual barang yang mereka inginkan. Dengan baik hati Makutha membelikan
berbagai macam barang yang diinginkannya karena ternyata meski dialam mimpi
Ratna tetap tidak memiliki uang. “Kamu senang Rat?” tanya Makutha ketika mereka
berjalan menuju toko yang menjual berbagai macam jajanan.
Ratna menoleh menghadap Mukuthan. Senyum cerah
tersungging diwajahnya membuat kedua lesung pipit yang menghiasi pipinya
semakin kentara. “Aku seneng banget Tha. Aku belum pernah ke tempat-tempat
seperti ini!” jawab Ratna antusias sambil berjalan dengan meloncat-loncat
girang. Melihat tingkah laku Ratna, Makutha hanya tersenyum geli sambil
menggelengkan kepalanya. Kemudian Makutha berjalan menjejari langkah Ratna yang
bersemangat sambil kembali meraih tangan Ratna untuk digenggamnya. Lalu mereka
berhenti di sebuah toko yang menjual jajanan sambil
beristirahat dan makan.
Ketika tengah asyik mencoba berbagai jenis jajanan Ratna
dan Makutha dikejutkan oleh sebuah teriakan yang nyaring dan melengking “KAAAAKKAAAAKKKK.”
Tidak jauh dari tempat mereka duduk muncul seorang gadis cantik berambut
panjang, yang dilihat dari pakaiannya merupakan pakaian yang mahal. Gadis itu
kemudian mendekati mereka. Kedua tangannya diletakkan di kedua pinggangnya,
tatapanya menghukum. “Kakak, aku ingin berbicara denganmu.” Kata gadis itu
kepada Makutha “sendiri.” Tambahnya kemudian. Makutha permisi kepada Ranta
lantas dia mengikuti adiknya. Setelah mereka berdua berada di tempat sepi Anila,
adik Makutha menatapnya dengan pandangan meminta penjelasan. Makutha tahu ini
akan terjadi jadi dia pun mulai menjelaskan semuanya. “Aku kasihan padanya, dia
selalu disiksa di dunianya, tidak ada yang perduli dengannya. Aku yang melihat
dia seperti itu merasa iba dan akhirnya aku memutuskan untuk mengajaknya
berjalan-jalan di dunia kita, dan menjadi temannya.” Jelas Makutha. Makutha
melihat mata adiknya semakin menyipit tanda tidak percaya.
“Apa kakak menyukainya? Apa kakak memberitahu siapa kakak
sebenarnya?” Anila bertanya lagi.
“Kau tenang saja dia tidak tahu apa-apa. Dia menganggap
semua ini hanya mimpi yang dipicu oleh imajinasi bawah sadarnya.” Makutha
menjelaskan tetapi Anila tetap bergeming. Makutha menghela nafas tahu pasti dia
tidak akan lolos dari pertanyaan adiknya yang ini, jadi dia hanya mengangguk “tapi
aku tahu dimana tempatku, jadi aku hanya akan berteman dengannya.” Jelas Makutha
kemudian berbalik, kembali menuju stage tempat dia meninggalkan Ratna.
“Ratna kenalkan ini Anila adikku, Anila ini temanku
Ratna.” Kata Makutha memperkenalkan Ratna dengan Anila. Ratna menggenggam
tangan Anila sambil mengangguk sopan yang dibalas genggaman erat dari Anila.
Mereka bertiga kemudian berjalan bersama-sama dan Makutha tidak pernah menggenggam
tangan Ratna lagi, dia berjalan dibelakan Ratna dan Anila, bak seorang bodyguard.
Kehidupan Ratna masih seperti dulu setiap hari dia akan
disiksa oleh ibu tirinya baru malamnya dia bisa menikmani kehidupan dengan
ditemani oleh Makutha. Semuanya berjalan terus seperti itu selama hampir satu
tahun hingga suatu hari Ratna mendengar berita kalau ibu tirinya akan menjodohkannya
dengan seorang duda tua dengan tiga orang anak yang berasal dari desa tetangga.
Berita itu disampaikan sendiri oleh ibu tirinya sambil mengatakan bahwa Ratna
hanya bisa menyusahkan, setiap pekerjaan yang ia lakukan selalu salah dan tidak
menyumbangkan apa-apa untuk membantu pengeluaran keluarga karena tidak bekerja,
jadi sebaiknya Ratna menikah saja jadi tidak membebani ayahnya lagi, apalagi
calon suaminya adalah duda yang kaya jadi pasti nanti bisa membantu keuangan
keluarga. Ratna yang mendengar semua itu merasa sakit hati. Sakit hatinya
bertambah berkali-kali lipat dari yang dirasakan biasanya. Bagaimana bisa ibu
tirinya bilang kalau dia tidak menyumbangkan apa-apa? Dari pagi dia bekerja
sampai malam mengurusi rumah! Ibunya hanya perlu duduk manis dan menerima beres
semua pekerjaan. Ratna tidak setuju dengan usulan ibu tirinya itu. Dia menolak
pertunangan itu, tapi ibu tirinya tidak menerima baik penolakan itu dia lantas
memukuli Ratna lebih keras dari biasanya membuat sebagian kulit Ratna
terkelupas.
Seperti malam-malam sebelumnya Ratna tertidur sambil
menangis. Tidak seperti biasanya malam itu Ratna tidak bermimpi apa-apa. Tidurnya
pun gelisah, serasa ada yang menatapnya ketika tengah tertidur tetapi ketika
dia setengah terjaga Ratna ingat tidak ada apa-apa di kamarnya kecuali seekor
kelelawar, tapi Ratna tidak memperdulikan itu karena, rumahnya memang dekat
dengan kebun dan sungai.
Berhari-hari selanjutnya Ratna tidak pernah bermimpi
lagi. Ibu tirinya tanpa ijin dari Ratna menyetujui perjodohan itu dan tengah
sibuk untuk mempersiapkan acara perkawinan yang akan segera dilaksanakan. Ratna
yang mengetahui itu berusaha untuk menolak sekali lagi tapi lagi-lagi dia
dipukuli. Akhirnya Ratna pasrah dengan nasibnya yang tidak pernah adil. Setiap
malam dia menangis sambil memohon memanggil-manggil nama Makutha memintanya
agar datang menemuinya dalam mimpi. Dengan permohanan itu sebagai nina bobo
Ratna akhirnya bermimpi juga. Di dalam mimpinya Makutha berdiri membelakangi
Ratna menunduk memandang ke kedalaman sungai yang ada di bawahnya. Dengan hati-hati Ratna mendekati Makutha yang
berdiri di sebuah batu besar di pingir sungai. Ratna menyentuh pundak Makutha
menariknya sedikit meminta Makutha berbalik menghadapnya namun, Makutha
bergeming. “Makutha?” Ratna berbisik. Tanpa berbalik menghadap Ratna, Makutha berujar
“Ratna, aku akan menemuimu di kamar besok. Setelah malam tiba.” Kemudian Ratna
tersentak bangun dari tidurnya, dari mimpinya.
Ratna kembali memejamkan matanya menganggap yang ia alami
hanya mimpi biasa.
Betapa terkejutnya Ratna saat membuka pintu kamarnya.
Disana di dekat jendela yang terbuka menampakkan langit yang sudah gelap
berdiri seorang lelaki. Laki-laki yang selalu hadir dalam mimpinya selama hampir
setahun belakangan ini. Laki-laki yang membuatnya tersenyum dan merasa hidup
setelah sekian lama. Seperti dalam mimpinya semalam Makutha terus membelakangi
Ratna menolak untuk melihatnya.
“Ratna, ada hal yang ingin aku katakana.” Jeda sejenak
sebelum Ratna mengangguk dan menjawab, masih tidak bisa membayangkan orang yang
selama ini hanya ada dalam mimpinya kini ada di depannya, dalam kehidupan nyata!
“Dulu ketika aku melihatmu menangis di pancuran aku hanya berniat untuk menjadi
temanmu, membuat kamu tertawa dan berhenti meratapi nasib. Tapi kini aku tak
sanggup lagi menjadi temanmu Rat, seiring dengan berlalunya waktu yang kita habiskan
aku mulai menyayangimu, lalu tanpa aku sadari rasa sayang itu sudah berubah
menjadi rasa cinta.” Makutha berbalik menghadap Ratna menatap mata Ratna
dalam-dalam “Ratna aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, tapi alam kita berbeda
dan aku terlalu mencintaimu untuk memintamu memilih aku atau hidupmu sebagai
manusia. Dan aku juga tahu meskipun ayahmu tidak menentang ibu tirimu ketika
dia memukulimu tapi, dalam hatinya dia sangat menyayangimu dia hanya terperdaya
akan akal busuk ibu tirimu. Dan aku juga tahu bahwa, jauh didalam lubuk hatimu
kau sangat menyayangi ayahmu. Dan aku tidak akan sanggup memintamu berpisah
dengan ayahmu. Tetapi aku juga tidak sanggup untuk menjadi temanmu jika aku
tidak bisa memilikimu.” Ratna yang mendengar pengakuan Makutha masih belum bisa
mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Makutha.
“Aku tidak mengerti.” Hanya itu yang bisa dikatakan oleh
Ratna, yang sukses membuat Makutha tersenyum. “Perkenalkan Ratna, aku adalah
Maharaja Makutha Lawa
penguasa dari Kaiswaran Madya Ratri”
Makutha memperkenalkan dirinya, melihat Ratna yang masih belum bisa bersuara
dia lantas melanjutkan “ia, aku adalah siluman. Aku adalah raja dari siluman
Lawa-Kelelawar yang menguasai sungai dibelakang rumahmu itu.” Jelas Makutha
sambil mengedikkan kepalanya ke arah sungai yang tertutup oleh pepohonan. Makutha
membiarkan Ratna mencerna kata-katanya, kemudian dia melanjutkan. “Karena tidak
ingin membuatmu terkejut maka dengan kekuatan yang aku miliki, aku membuat
seolah-olah kita bertemu dalam mimpi. Padahal aku mengeluarkan badan halusmu
dan mengajakmu berjalan-jalan ke duniaku.”
“Aku tidak percaya” hanya itu yang bisa Ratna katakan.
Makutha berjalan melewati Ratna menuju lemari, kemudian
dengan sekali sentakan dia membuka kedua pintu lemari, dan dengan perlahan
merogoh ke dalam lemari mengambil beberapa baju dari tumpukan terbawah.
Kemudian memperlihatkannya kepada Ratna. “Kamu ingat ini? Ini adalah baju yang
kita beli beberapa bulan yang lalu. Semua yang kau beli semuanya tersimpan di dalam
lemarimu. Meskipun dimensi dunia tempat kita tinggal berbeda tetapi cara kita
hidup cukup banyak kesamaan. Di duniaku, juga ada pasar, dan toko, kami juga
bekerja dan menggunakan uang untuk membayar. Hanya saja di dunia Siluman yang
aku tempati pemimpinnya masih seorang raja yaitu aku.”
Ratna menatap Makhuta “Kalau begitu tunjukkan kalau kau
adalah seorang siluman.” Tantang Ratna. Makutha menghela napas lelah. Kemudian
dengan sekejap mata Makutha sudah berubah menjadi seekor kelelawar yang lebih
besar dari kelelawar kebanyakan. Kelelawar jadi-jadian itu berputar-putar
beberapa kali diatas kepala Ratna kemudian dalam sekejap mata berubah kembali
menjadi Makhuta. Melihat transformasi itu mata Ratna terbelalak ngeri. Sedikit
demi sedikit dia bergerak mundur menjauh dari Makutha. “Pergi” bisik Ratna
ngeri. Bukannya mematuhi permintaan Ratna, Makutha malah mendekati Ratna, berusaha
menggapainya. “PERGIII!!!!” teriak Ratna sambil menutupi matanya. Dengan hati
terluka karena penolakan Ratna, Makutha pergi dengan hati hancur.
Selama satu hari Ratna tidak mau keluar dari kamarnya.
Dia syok, dan semangat hidupnya menurun. Ratna bahkan tidak merasakan sakit
lagi ketika dia dipukuli karena menolak menemani calon suaminya, yang merupakan
duda beranak tiga. Dia hanya diam menerima pukulan-pukulan yang dihantamkan ibu
tirinya. Setiap hari Ratna hanya bisa melamun memikirkan Makutha.
***
Di alam siluman Makutha duduk termangu memandangi kayu
yang biasa diduduki olehnya dan Ratna. Saking tenggelamnya Makutha dalam
lamunannya, Makutha tidak menyadari adiknya, Alina mendekat menghampirinya.
“Kak” Alina menepuk punggung kakaknya dengan keras hingga membuat Makutha
hampir jatuh tertelungkup.
Dengan tatapan sebal Makutha menatap adiknya. Alina yang
ditatap seperti itu hanya tersenyum dan akhirnya tertawa-tawa geli. “Oh,
kakakku sayang. Penguasa Kaiswaran Madya Ratri, kenapa kau melamun seperti itu? Seperti
orang yang sedang patah hati.” Ledek adiknya yang sukses menambah kadar tatapan
jengkel yang diberikan Makutha. “Oh, sudahlah kak.” Kata Alina yang kini sudah
mulai serius. “Kalau kau mencintainya, kenapa kau tidak menikahinya saja?
Bukankah leluhur kita juga ada yang menikahi manusia?” Tanya Alina bersimpati
dengan masalah kakaknya. Tetapi orang yang diajaknya bicara hanya melengos dan
kembali mengarahkan pandangannya pada batang kayu di depannya. “Kakak.”
Mendengar suara Alina yang begitu mendesak membuat Makutha kembali menghadap
adiknya. Kali ini dengan pandangan bertanya. “Belakangan ini aku pergi ke dunia
Ratna, aku mengamatinya. Dia terlihat seperti mayat hidup. Bahkan ketika dia
dipukuli dia hanya diam dan menerimanya. Dan yang lebih gawat lagi, dia akan
segera menikah. Dia dijodohkan dengan seorang tua yang memiliki tiga anak!”
Alia mengadukan semua pengamatan yang dia lihat. Hati Makutha terasa sesak
membayangkan Ratna yang begitu menderita. Niatnya dulu untuk membuat Ratna
bahagia malah membuatnya semakin menderita. Kenapa takdir mengharuskannya
terlahir sebagai bangsa siluman? Hidup selama ratusan tahun tanpa cinta, dan
ketika dia menemukan cinta dia malah harus melepaskannya karena berbeda
dimensi, berbeda dunia.
Melihat kakaknya yang
terlihat merana Alina mengusap punggung kakaknya memberi semangat dan dukungan.
“Jika kau memang benar mencintainya, dan aku yakin dia juga mencintaimu. Maka
carilah dia. Lamar dia, dan biarkan takdir yang memutuskan apakah kalian memang
tidak berjodoh atau kalian memang ditakdirkan untuk bersama.” Setelah
mengatakan itu Alina pergi membiarkan kakaknya merenungkan semua kata-katanya.
Beberapa menit berlalu
ketika Makutha mulai berdiri dan berlari menembus dimensi mencari cintanya.
***
Ratna menatap cermin kecil yang ada di meja kamarnya.
Hari ini adalah hari pernikahannya tapi dia merasa hari ini adalah hari
pemakamannya. Selama berminggu-minggu dia merenungkan semua hal menyangkut
hidupnya, semua hal yang telah terjadi dalam hidupnya. Dan dia memutuskan bahwa
dia sangat mencintai Makutha. Tak peduli siapa dan apa sebenarnya Makutha itu.
Ratna hanya tahu bahwa dia mencintainya dan tidak dapat hidup tanpanya. Ratna
merasakan detak jantungnya semakin memburu, hormone adrenalin mulai bergolak
mengambil alih tubuhnya. Tanpa pikir panjang Ratna berlari keluar rumah menuju
sungai. Dalam hati Ratna berteriak memanggil Makutha. Bagai pucuk dicinta ulam
tiba, saat Ratna sudah nekat untuk melompat ke dalam sungai, berharap dengan
begitu dia bisa menyeberang dan sampai di dunia Makutha. Tapi di sanalah dia,
cintanya berdiri mengulurkan tangan. Menunggunya. Tanpa pikir panjang Ratna
meraih uluran tangannya.
Beberapa hari kemudian jasad Ratna ditemukan mengambang
di sungai. Ayahnya begitu bersedih dengan kepergian anaknya, menyesal karena
tidak menyayanginya. Tapi itu hanya badan kasarnya. Badan yang selama ini
selalu tersiksa. Kini jiwa Ratna akan hidup abadi bersatu dengan belahan
jiwanya yang akan selalu memberikan cinta dan kebahagiaan. Tak perduli siapa,
dan apa bentuk mereka. Jiwa mereka akan selalu bersatu meski dunia mereka
berbeda. Karena itulah takdir meraka diciptakan.
The End.
Langganan:
Postingan (Atom)